Jumat, 23 Desember 2016

Biografi Sufi : Ibn Arabi (RESUME)

IDENTITAS
Nama                           : Geubrina Rizka Utami Sinaga
NIM                            : 72154060
Prodi/Sem                   : Sistem Informasi/3
Fakultas                       : Sains Dan Teknologi
Perguruan Tinggi         : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU)
Dosen Pengampu        : Dr. Ja’far, MA.
Mata Kuliah                : Akhlak Tasawuf

TEMA                        : Biografi Sufi : Ibn Arabi

BUKU                        : AKHLAK TASAWUF Pengenalan, Pemahaman, dan Pengaplikasiannya (Disertai Biografi dan Tokoh-tokoh Sufi)
Identitas Buku           : Drs. H. Ahmad Bangun Nasution, M.A. , Dra. Hj. Rayani Hanum Siregar, M.H., (Jakarta Pers, 2015)


-          Riwayat Hidup
Nama lengkap Ibn Arabi adalah Muhammad bin Ali bin Ahmad bin ‘Abdullah ath-Tha’i al Haitami. Beliau lahir pada tahun 560 H. (1163 M) di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol. Beliau lahir dari keluarga berpangkat, hartawan, dan ilmuwan.
Ibunya adalah Nurul Anshariyah. Ayah Ibn Arabi, ‘Ali, adalah pegawai Muhammad ibn Sa’id ibn Mardanisy, penguasa Murcia, Spanyol. Ketika Ibn Arabi berusia tujuh tahun, Murcia ditaklukan oleh Dinasti al-Muwahiddun (al-Mohad) sehingga Ali membawa pergi keluarganya ke Sevilla. Di tempat itu, sekali lagi dirinya menjadi pegawai pemerintahan. Ia memiliki status sosial yang tinggi.
Pada usia 8 tahun, keluarganya pindah ke Sevilla di mana Ibn Arabi belajar Al-Qur’an, Al-Hadis dan fikih pada sejumlah murid faqih terkenal di Andalusia, Ibnu Hazm al-Zhahri. Ia belajar tasawuf kepada sejumlah sufi terkenal seperti Abu Madyan al-Gaus al-Talimsari, dan melanglang buana ke berbagai negeri seperti Yaman, Syria, Irak, Mesir, dan pada akhirnya pada tahun 620 H, ia menetap di Hijaz hingga akhir hayatnya. Pada tahun 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia. Maka di kota baru ini, terjadi transformasi pengetahuan dan kepribadian Ibn Arabi. Kepribadian sufi, intelektualisme filosofis, fiqih, dan sastra. Karena itu kelak, selain sebagai filsuf sufi, Ibn Arabi juga dikenal sebagai ahli tafsir, hadis, fikih, sastra, dan filsafat, bahkan astrolog dan kosmolog.
Pada masa mudanya Ibn Arabi bekerja sebagai sekretaris Gubernur Sevilla dan menikahi seorang gadis bernama Maryam, yang berasal dari sebuah keluarga berpengaruh. Pada tahun 590 H, Ibn Arabi meninggalkan Spanyol untuk mengunjungi Tunisia. Tahun 597 H\1200 M, sebuah ilham spiritual memerintahkan dirinya untuk pergi ke timur. Dua tahun kemudian, ia melakukan ibadah haji ke Mekkah dan berkenalan dengan seorang syaikh dari Isfahan yang memiliki seorang putri. Pertemuan dengan perempuan ini mengilhami Ibn Arabi untuk menyusun Tarjuman al-Asywaq. Di Makkah pula ia berjumpa dengan Majd al-Din Ishaq, seorang syaikh dari Malatya, yang kelak akan mempunyai seorang putra yang menjadi murid terbesar Ibn Arabi, Shadr al-Din al-Qunawi. (Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, 2015 : 141-142)

-          Bidang Pendidikan
Ibn Arabi lahir tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga berilmu pengetahuan yang memadai. Kasih sayang dan tunjuk ajar secara langsung yang diterimanya dalam keluarga, telah menyemaikan benih-benih yang siap tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, secara non formal, keluarga terutama ayahnya telah memberikan dasar-dasar pendidikan pada beliau, yang siap untuk dikembangkan dan ditindaklanjuti lebih arif.
Ibn Arabi memulai pendidikan dasarnya dengan memfokuskan pada bacaan Al-Qur’an dan ilmu qira’at. Pendidikan ini dijalani dengan tekun dan penuh semangat serta diperoleh dari beberapa orang guru, di antaranya adalah Abu Hasan bin Muhammad al-Ra’ini dan Qasim Abd Rahman al-Qurtubi serta Abu Bakar Muhammad bin Khalaf al-Lakhmi. Baginya belajar kepada beberapa orang guru adalah untuk memantapkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya, sehingga melekat di dalam dada. Selain bidang tersebut beliau tidak lupa mempelajari hadis, fikih, bahkan sastra. Ilmu-ilmu ini juga diperoleh dari beberapa orang gurunya seperti Ibn Zaqrun, Abu al-Qasim Jamal al-Din al-Harsatani, Abu Muhammad Abd al-Haq ‘Asyibili dan Abu Bakar Muhammad al-Jad.
Pada tahun 580 H dimulailah perjalanan Ibn Arabi tahap awal dengan menelusuri ke segenap pelosok Andalusia. Selama kurang lebih 10 tahun beliau mengembara berpindah dari satu tempat ke tempat lain menjelajahi berbagai sudut Andalusia, hinggalah tahun 590 H barulah beliau mengakhiri petualangannya di daerah ini. Selama dalam pengembaraannya berbagai ilmu dan pengalaman telah dimiliki, perjalanan yang penuh berkesan ini semakin memantapkan semangatnya untuk terus menelusuri lorong-lorong ilmu. (Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, 2015 : 142-144)

-          Buah Karya Ibn Arabi
Sekalipun Ibn Arabi dikenal sebagai seorang yang mapan dalam bidang tasawuf, tidak berarti beliau hanya menguasai ilmu tasawuf saja, bahkan berbagai ilmu pengetahuan lain beliau kuasai secara mendalam. Selain ahli dalam bidang tasawuf beliau alim pula dalam bidang atsar, begitu pula dalam bidang hadis, bahkan beliau merupakan seorang penyair dan seorang sastrawan.
Di antara bukunya yang terkenal adalah Al-Futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam. Menurut Ibn Arabi bahwa kitab Futuhat al-Makkiyah adalah imla’ dari Tuhan sedangkan Fushush al-Hikam adalah pemberian Rasulullah Saw. Muhammad Yusuf Musa mengatakan bahwa kedua kitab Ibn Arabi ini adalah dua sumber utama bagi siapa saja yang mau mempelajari tasawuf Ibn Arabi.
Cukup banyak hasil karya Ibn Arabi, di antara karya utamanya adalah al-Futuhat al-Makkiyah yang mengandung 560 bab. Kitab ini disusun dengan memakan waktu yang cukup lama, mulai ditulis pada tahun 599 H dan baru dapat diselesaikan setelah beliau tinggal dan menetap di Damsik (620H-638H). Isi kandungan kitab ini pada umumnya memperbincangkan prinsip-prinsip metafisik serta berbagai permasalahan tasawuf di samping berbagai pengalaman religius yang dialami Ibn Arabi.
Kitab Fusus al-Hikam juga merupakan buah karya Ibn Arabi yang cukup dikenal, kitab ini selesai ditulis pada tahun 628 H, ketika beliau berada di Damsik. Sekalipun kitab ini tidak setebal kitab al-Futuhat al-Makkiyah, namun dianggap sebagai puncak kematangan Ibn Arabi dalam bidang penulisan. Di dalam kitab ini terkandung kesempurnaan alirannya yang telah dibincangkan dalam tulisan-tulisannya yang lain. Sama halnya dengan kitab al-Futuhat al-Makkiyah, kitab Fusus al-Hikam ini juga disiapkan di Damsyiq sekitar tahun 628 H.
Secara kronologis, berikut ini adalah beberapa daftar karya-karya Ibn Arabi:
1. Kitab Al-Isra’ (The Book of Night Journey). Written in Fez, 594 H/1198 M.
2. Mawaqi al-Nujum (Settings of the Stars). Written in Almeria, 595 H/1199 M.
3. Mishkat al-Anwar (The Niches of Lights). Written in Mecca, 599 H/1202 M.
4. Hilyat al-Abdal (the Adornment of the Substitutes). Written in Taif, 599 H/1203 M.
5. Taj al-Rasail (The Crown of Epistles). Written in Mecca, 600 H/1203 M.
6. Kitab al-Alif, Kitab al-Ba’, Kitab al-Ya. Written in Yerusalem, 601 H/1204 M.
7. Fusus al-Hikam (Vessels of Wisdom). Damascus, 627 H/1229 M.
8. Al-Futuhat al-Makkiyah (Meccan Illuminations), Mecca, 1202-1231 (629) (Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, 2015 : 144-145)

-          Ajaran Ibn Arabi
Di antara ajaran terpenting dari Ibn Arabi adalah wadhat al-wujud, yaitu bahwa paham manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. Menurut paham ini bahwa setiap sesuatu yang ada memiliki dua aspek, yaitu aspek luar dan aspek dalam. Aspek luar disebut makhluk (al-khalaq). Aspek dalam disebut Tuhan (al-haqq). Menurut paham ini, aspek yang sebenarnya adalah aspek dalam (Tuhan) sedangkan aspek luar hanyalah bayangan dari aspek dalam tersebut. Allah adalah hakikat alam sedangkan alam ini hanyalah bayangan dari wujud Tuhan. Karena itu menurut paham ini tidak ada perbedaan antara makhluk dengan Tuhan. Perbedaan hanya rupa dan ragam, sedangkan hakikatnya sama. Paham wahfat al-wujud Ibn Arabi, misalnya, dapat dilihat dari perkataan berikut.
“Maha suci Tuhan yang telah menzahirkan segala sesuatu dan Dia adalah hakikat (ain) dari segala sesuatu itu”
Ibn Arabi di dalam syairnya juga mengatakan:
“Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba. Demi persaanku, siapakah yang mukallaf. Jika engkau katakan hamba, padahal dia (pada hakikatnya) Tuhan juga. Atau engkau katakan Tuhan, lalu siapa yang dibebani taqlif”.
Ungkapan ini berarti bahwa tidak ada perbedaan antara hamba dan Tuhan. Perbedaan hanyalah pada ragam dalam penglihatan sedang hakikatnya satu.
Deangan demikian, menurut Ibn Arabi bahwa wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah. Allah adalah hakikat alam. Menurut Muhammad Yusuf Musa bahwa kesimpulan ajaran aliran ini adalah sesungguhnya tidak ada wujud selain wujud yang satu (Tuhan). Karena itu. Tuhan berwujud dalam berbagai bentuk, tetapi hal ini tidak mengharuskan berbilangnya wujud yang sebenarnya. (Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, 2015 : 146-147)

-          Wafatnya Ibn Arabi

Beliau mengakhiri pengembarannya di Damsik. Pada malam jum’at 28 Rabi’ul Akhir tahun 638 H beliau dipanggil yang Maha Kuasa kembali menghadap Ilahi dalam usia 78 tahun. Jasadnya yang sudah membeku, membisu seribu bahasa disemadikan di dalam Masjid Imam Akbar Muhyi al-Din bin Arabi terletak di kaki bukit Qasiyunak. Meskipun jasadnya telah kembali ke asalnya, mulutnya tidak pernah bicara lagi tangannya telah berhenti menggoreskan tinta, namun karyanya masih tetap berbicara, semua usaha dan jerih payahnya masih dapat dinikmati hingga saat ini tetap hidup di hati umat ini. (Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, 2015 : 147)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar