NIM : 72154060
Prodi/Sem : Sistem
Informasi/3
Fakultas :
Sains Dan Teknologi
Perguruan Tinggi :
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU)
Dosen Pengampu :
Dr. Ja’far, MA.
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Biografi Sufi : Ibn
Arabi
BUKU :
AKHLAK TASAWUF Pengenalan,
Pemahaman, dan Pengaplikasiannya (Disertai Biografi dan Tokoh-tokoh Sufi)
Identitas Buku : Drs. H. Ahmad Bangun Nasution, M.A. , Dra. Hj. Rayani
Hanum Siregar, M.H., (Jakarta Pers, 2015)
-
Riwayat Hidup
Nama lengkap Ibn Arabi adalah Muhammad bin Ali bin
Ahmad bin ‘Abdullah ath-Tha’i al Haitami. Beliau lahir pada tahun 560 H. (1163 M)
di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol. Beliau lahir dari keluarga berpangkat,
hartawan, dan ilmuwan.
Ibunya adalah Nurul Anshariyah. Ayah Ibn Arabi,
‘Ali, adalah pegawai Muhammad ibn Sa’id ibn Mardanisy, penguasa Murcia,
Spanyol. Ketika Ibn Arabi berusia tujuh tahun, Murcia ditaklukan oleh Dinasti
al-Muwahiddun (al-Mohad) sehingga Ali membawa pergi keluarganya ke Sevilla. Di
tempat itu, sekali lagi dirinya menjadi pegawai pemerintahan. Ia memiliki
status sosial yang tinggi.
Pada usia 8 tahun, keluarganya pindah ke Sevilla di
mana Ibn Arabi belajar Al-Qur’an, Al-Hadis dan fikih pada sejumlah murid faqih terkenal di Andalusia, Ibnu Hazm
al-Zhahri. Ia belajar tasawuf kepada sejumlah sufi terkenal seperti Abu Madyan
al-Gaus al-Talimsari, dan melanglang buana ke berbagai negeri seperti Yaman,
Syria, Irak, Mesir, dan pada akhirnya pada tahun 620 H, ia menetap di Hijaz
hingga akhir hayatnya. Pada tahun 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke
Isybilia. Maka di kota baru ini, terjadi transformasi pengetahuan dan
kepribadian Ibn Arabi. Kepribadian sufi, intelektualisme filosofis, fiqih, dan
sastra. Karena itu kelak, selain sebagai filsuf sufi, Ibn Arabi juga dikenal
sebagai ahli tafsir, hadis, fikih, sastra, dan filsafat, bahkan astrolog dan
kosmolog.
Pada masa mudanya Ibn Arabi bekerja sebagai
sekretaris Gubernur Sevilla dan menikahi seorang gadis bernama Maryam, yang
berasal dari sebuah keluarga berpengaruh. Pada tahun 590 H, Ibn Arabi
meninggalkan Spanyol untuk mengunjungi Tunisia. Tahun 597 H\1200 M, sebuah
ilham spiritual memerintahkan dirinya untuk pergi ke timur. Dua tahun kemudian,
ia melakukan ibadah haji ke Mekkah dan berkenalan dengan seorang syaikh dari
Isfahan yang memiliki seorang putri. Pertemuan dengan perempuan ini mengilhami
Ibn Arabi untuk menyusun Tarjuman
al-Asywaq. Di Makkah pula ia berjumpa dengan Majd al-Din Ishaq, seorang
syaikh dari Malatya, yang kelak akan mempunyai seorang putra yang menjadi murid
terbesar Ibn Arabi, Shadr al-Din al-Qunawi. (Ahmad Bangun Nasution, Rayani
Hanum Siregar, 2015 : 141-142)
-
Bidang
Pendidikan
Ibn Arabi lahir tumbuh dan berkembang dalam
lingkungan keluarga berilmu pengetahuan yang memadai. Kasih sayang dan tunjuk
ajar secara langsung yang diterimanya dalam keluarga, telah menyemaikan
benih-benih yang siap tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, secara non
formal, keluarga terutama ayahnya telah memberikan dasar-dasar pendidikan pada
beliau, yang siap untuk dikembangkan dan ditindaklanjuti lebih arif.
Ibn Arabi memulai pendidikan dasarnya dengan
memfokuskan pada bacaan Al-Qur’an dan ilmu qira’at. Pendidikan ini dijalani
dengan tekun dan penuh semangat serta diperoleh dari beberapa orang guru, di
antaranya adalah Abu Hasan bin Muhammad al-Ra’ini dan Qasim Abd Rahman
al-Qurtubi serta Abu Bakar Muhammad bin Khalaf al-Lakhmi. Baginya belajar
kepada beberapa orang guru adalah untuk memantapkan ilmu pengetahuan yang
diperolehnya, sehingga melekat di dalam dada. Selain bidang tersebut beliau
tidak lupa mempelajari hadis, fikih, bahkan sastra. Ilmu-ilmu ini juga
diperoleh dari beberapa orang gurunya seperti Ibn Zaqrun, Abu al-Qasim Jamal
al-Din al-Harsatani, Abu Muhammad Abd al-Haq ‘Asyibili dan Abu Bakar Muhammad
al-Jad.
Pada tahun 580 H dimulailah perjalanan Ibn Arabi tahap
awal dengan menelusuri ke segenap pelosok Andalusia. Selama kurang lebih 10
tahun beliau mengembara berpindah dari satu tempat ke tempat lain menjelajahi
berbagai sudut Andalusia, hinggalah tahun 590 H barulah beliau mengakhiri
petualangannya di daerah ini. Selama dalam pengembaraannya berbagai ilmu dan
pengalaman telah dimiliki, perjalanan yang penuh berkesan ini semakin
memantapkan semangatnya untuk terus menelusuri lorong-lorong ilmu. (Ahmad
Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, 2015 : 142-144)
-
Buah Karya Ibn
Arabi
Sekalipun Ibn Arabi dikenal sebagai seorang yang
mapan dalam bidang tasawuf, tidak berarti beliau hanya menguasai ilmu tasawuf
saja, bahkan berbagai ilmu pengetahuan lain beliau kuasai secara mendalam.
Selain ahli dalam bidang tasawuf beliau alim pula dalam bidang atsar, begitu
pula dalam bidang hadis, bahkan beliau merupakan seorang penyair dan seorang
sastrawan.
Di antara bukunya yang terkenal adalah Al-Futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam. Menurut Ibn Arabi
bahwa kitab Futuhat al-Makkiyah
adalah imla’ dari Tuhan sedangkan Fushush al-Hikam adalah pemberian
Rasulullah Saw. Muhammad Yusuf Musa mengatakan bahwa kedua kitab Ibn Arabi ini
adalah dua sumber utama bagi siapa saja yang mau mempelajari tasawuf Ibn Arabi.
Cukup banyak hasil karya Ibn Arabi, di antara karya
utamanya adalah al-Futuhat al-Makkiyah yang mengandung 560 bab. Kitab ini
disusun dengan memakan waktu yang cukup lama, mulai ditulis pada tahun 599 H
dan baru dapat diselesaikan setelah beliau tinggal dan menetap di Damsik
(620H-638H). Isi kandungan kitab ini pada umumnya memperbincangkan
prinsip-prinsip metafisik serta berbagai permasalahan tasawuf di samping
berbagai pengalaman religius yang dialami Ibn Arabi.
Kitab Fusus al-Hikam juga merupakan buah karya Ibn
Arabi yang cukup dikenal, kitab ini selesai ditulis pada tahun 628 H, ketika
beliau berada di Damsik. Sekalipun kitab ini tidak setebal kitab al-Futuhat
al-Makkiyah, namun dianggap sebagai puncak kematangan Ibn Arabi dalam bidang
penulisan. Di dalam kitab ini terkandung kesempurnaan alirannya yang telah
dibincangkan dalam tulisan-tulisannya yang lain. Sama halnya dengan kitab al-Futuhat al-Makkiyah, kitab Fusus al-Hikam ini juga disiapkan di
Damsyiq sekitar tahun 628 H.
Secara kronologis, berikut ini adalah beberapa
daftar karya-karya Ibn Arabi:
1. Kitab
Al-Isra’ (The Book of Night Journey). Written in Fez, 594 H/1198 M.
2. Mawaqi
al-Nujum (Settings of the Stars). Written in Almeria, 595 H/1199 M.
3. Mishkat
al-Anwar (The Niches of Lights). Written in Mecca, 599 H/1202 M.
4. Hilyat
al-Abdal (the Adornment of the Substitutes). Written in Taif, 599 H/1203 M.
5. Taj
al-Rasail (The Crown of Epistles). Written in Mecca, 600 H/1203 M.
6. Kitab
al-Alif, Kitab al-Ba’, Kitab al-Ya. Written in Yerusalem, 601 H/1204 M.
7. Fusus al-Hikam (Vessels of Wisdom). Damascus, 627
H/1229 M.
8. Al-Futuhat al-Makkiyah (Meccan Illuminations),
Mecca, 1202-1231 (629) (Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, 2015 :
144-145)
-
Ajaran Ibn Arabi
Di antara ajaran terpenting dari Ibn Arabi adalah
wadhat al-wujud, yaitu bahwa paham manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah
satu kesatuan wujud. Menurut paham ini bahwa setiap sesuatu yang ada memiliki
dua aspek, yaitu aspek luar dan aspek dalam. Aspek luar disebut makhluk (al-khalaq). Aspek dalam disebut Tuhan (al-haqq). Menurut paham ini, aspek yang
sebenarnya adalah aspek dalam (Tuhan) sedangkan aspek luar hanyalah bayangan
dari aspek dalam tersebut. Allah adalah hakikat alam sedangkan alam ini
hanyalah bayangan dari wujud Tuhan. Karena itu menurut paham ini tidak ada
perbedaan antara makhluk dengan Tuhan. Perbedaan hanya rupa dan ragam,
sedangkan hakikatnya sama. Paham wahfat
al-wujud Ibn Arabi, misalnya, dapat dilihat dari perkataan berikut.
“Maha suci Tuhan yang telah menzahirkan segala
sesuatu dan Dia adalah hakikat (ain)
dari segala sesuatu itu”
Ibn Arabi di dalam syairnya juga mengatakan:
“Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba. Demi
persaanku, siapakah yang mukallaf.
Jika engkau katakan hamba, padahal dia (pada hakikatnya) Tuhan juga. Atau
engkau katakan Tuhan, lalu siapa yang dibebani taqlif”.
Ungkapan ini berarti bahwa tidak ada perbedaan
antara hamba dan Tuhan. Perbedaan hanyalah pada ragam dalam penglihatan sedang
hakikatnya satu.
Deangan demikian, menurut Ibn Arabi bahwa wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah. Allah adalah hakikat alam.
Menurut Muhammad Yusuf Musa bahwa kesimpulan ajaran aliran ini adalah
sesungguhnya tidak ada wujud selain wujud yang satu (Tuhan). Karena itu. Tuhan
berwujud dalam berbagai bentuk, tetapi hal ini tidak mengharuskan berbilangnya
wujud yang sebenarnya. (Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, 2015 :
146-147)
-
Wafatnya Ibn
Arabi
Beliau mengakhiri pengembarannya di Damsik. Pada
malam jum’at 28 Rabi’ul Akhir tahun 638 H beliau dipanggil yang Maha Kuasa
kembali menghadap Ilahi dalam usia 78 tahun. Jasadnya yang sudah membeku,
membisu seribu bahasa disemadikan di dalam Masjid Imam Akbar Muhyi al-Din bin
Arabi terletak di kaki bukit Qasiyunak. Meskipun jasadnya telah kembali ke
asalnya, mulutnya tidak pernah bicara lagi tangannya telah berhenti
menggoreskan tinta, namun karyanya masih tetap berbicara, semua usaha dan jerih
payahnya masih dapat dinikmati hingga saat ini tetap hidup di hati umat ini. (Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, 2015 :
147)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar