Jumat, 23 Desember 2016

Cinta , Ridha dan Al-Maqam Lainnya (RESUME) -BAB 3-

IDENTITAS
Nama                           : Geubrina Rizka Utami Sinaga
NIM                            : 72154060
Prodi/Sem                   : Sistem Informasi/3
Fakultas                       : Sains Dan Teknologi
Perguruan Tinggi         : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU)
Dosen Pengampu        : Dr. Ja’far, MA.
Mata Kuliah                : Akhlak Tasawuf

TEMA                        : Cinta (al-mahabbah), Rida (al-ridha), Al-Maqam Lainnya

BUKU 1                     : Gerbang Tasawuf (Buku Utama)
Identitas Buku           : Ja’far, (Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Cinta (al-mahabbah)
Sub 2 : Rida (al-ridha)
Sub 3 : Al-Maqam Lainnya
Kesimpulan

-          Cinta (al-mahabbah)
Menurut Ja’far (78:2016), Menurut al-Ghazali, al-mahabbah adalah al-maqam sebelum rida. Kaum sufi mendasari ajaran mereka tentang cinta dengan Alquran, hadis, dan atsar. Kata cinta disebut Alquran secara berulang kali, meskipun tidak hanya dalam makna cinta kepada Allah Swt. Kata hub disebut Alquran sebanyak 99 kali dalam berbagai bentuk kata, antara lain hubb dan yuhibbu, sedangkan dalam kata al-mahabbah tidak digunakan Alquran.
Sedangkan makna al-mahabbah dalam tasawuf dapat dilihat dari ucapan kaum sufi. Junaid al-Baghdadi, misalnya, berkata “cinta adalah masuknya sifat-sifat kekasih pada sifat-sifat yang mencintai.” Muhammad bin ‘Ali al-Kattani berkata “cinta mengutamakan yang dicintai.” Muhammad bin al-Fadhal al-Farawi berkata “cinta itu adalah runtuhnya semua cinta dalam hati kecuali kepada kekasih.”
Tanda cinta kepada Allah Swt adalah senantiasa berzikir kepada Allah; gemar mengasingkan diri hanya untuk bermunajat kepada-Nya seperti membaca Alquran dan tahajud; merasa rugi bila melewatkan waktu tanpa menyebut nama-Nya; dan menyayangi semua hamba Allah, mengasihi mereka dan bersikap tegas terhadap musuh-musuh-Nya. Jabaran diatas iala menurut Ibn Qudamah. Jika menurut al-Ghazali, mengutip pendapat Yahya bin Mu’az, indikator seorang hamba mencintai Allah Swt adalah mengutamakan perkataan Allah daripada perkataan manusia, mengutamakan bertemu dengan allah daripada bertemu dengan makhluk, dan mengutamakan ibadah kepada Allah Swt daripada melayani manusia.

-          Rida (al-ridha)
Menurut Ja’far (80:2016), Kata rida berasal dari kata radhiya, yardha, ridhwanan yang artinya “senang, puas, memilih, persetujuan, memilih, menyenangkan, dan menerima.” Dalam kamus bahasa Indonesia, rida adalah “rela, suka, senang hati, perkenan, dan rahmat.” Penyebutan istilah rida secara berulang kali dan dalam berbagai bentuk di dalam Alquran mengarahkan kepada kesimpulan bahwa Islam menilai penting maqam rida.
Para sufi telah memberikan penegasan mengenai arti dari maqam terakhir yang mungkin dicapai oleh kaum sufi sebagaimana dijelaskan oleh sufi-sufi dari mazhab Sunni. Di antara mereka, Ibn Khatib mengatakan bahwa “rida adalah tenangnya hati dengan ketetapan (takdir) Allah Ta’ala dan keserasian hati dengan sesuatu yang dijadikan Allah Ta’ala.” Menurut al-Hujwiri, rida terbagi menjadi dua macam: rida Allah terhadap hambanya, dan rida hamba terhadap Allah Swt. Rida Allah terhadap hamba-Nya adalah dengan cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah-Nya, sedangkan rida hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan tunduk atas segala hukum-Nya.”
Abu Umar al-Dimsyaqi berkata, “rida adalah meninggalkan keluh kesah ketika hukum telah diberlakukan.” Ruwaim berkata “rida adalah menerima hukum dengan senang hati.” Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, rida memiliki dua derajat: rida kepada Allah Swt. sebagai Rabb dan membenci ibadah kepada selain-Nya; dan rida terhadap qada dan qadar Allah Swt. Menurut Ibn Qudamah, makna rida adalah seorang hamba menyadari bahwa pengaturan Allah Swt. lebih baik dari pengaturan manusia; dan rida atas penderitaan, karena di balik penderitaan ada pahala apalagi penderitaan itu berasal dari Allah Swt. sebagai Kekasihnya.

-          Al-Maqam Lainnya
Menurut Ja’far (84:2016), Sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa al-ridha bukan maqam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua, yakni al-ma’rifat haq yang berarti penegasan keesaan Allah atas sifat-sifat yang dikemukakan-Nya; dan ma’rifat haqiqah yang bermakna makrifat yang tidak bisa dicapai dengan sarana apapun, sebab sifat-Nya tidak dapat ditembus dan ketuhanan-Nya tidak dapat dipahami.
Al-Qusyairi menjelaskan bahwa maksud para sufi dari istilah makrifat adalah “sifat dari orang-orang yang mengenal Allah Swt. dengan nama dan sifat-Nya, dan membenarkan Allah Swt. dengan melaksanakan ajaran-Nya dalam segala perbuatan... [makrifat adalah] pengosongan diri untuk selalu mengingat Allah Swt., tidak menyaksikan selain menyaksikan-Nya, dan tidak kembali kepada selain-Nya.”
Tingkat makrifat paling tinggi dimiliki oleh kaum ‘urafa, ahl al-yaqin, dan ahl al-hudhur yang menyaksikan-Nya secara langsung [dengan hati]. Bagi sebagian sufi, makrifat lebih tinggi dari rida. Sebagian sufi lain menghadirkan ajaran lain mengenai al-maqam tertinggi. Al-Hallaj mengenalkan paham al-hulul, Abu Yazid al-Bistami memiliki ajaran tentang al-ittihad, dan Ibn’ Arabi mengajarkan paham wahdah al-wujud yang dielaborasi lebih lanjut oleh Mulla Shadra. Ketiga teori ini memang mendapatkan penolakan dari banyak fukaha dan teolog Sunni, tetapi diterima oleh mayoritas fukana Syiah.


-          Kesimpulan
Kesimpulan dari seluruhnya ialah cinta adalah maqam sebelum rida, dasar ajaran dari kaum sufi tentang cinta ialah al-qur’an, hadis, dan atsar. Cinta juga disebut dalam Alquran secara berulang kali. Walaupun tidak dalam makna cinta saja. Makna mahabbah dalam tasawuf menurut sufi Muhammad bin ‘Ali al-Kattani ialah “cinta mengutamakan yang dicintai.” Tanda cinta kepada Allah ialah dengan berzikir kepada-Nya, senang mengasingkan diri hanya untuk bermunajat kepada Allah seperti membaca al-qur’an dan tahajud.
Lalu, rida menurut Ibn Khatib adalah tenangnya hati dengan ketetapan (takdir) Allah Ta’ala dan keserasian hati dengan sesuatu yang dijadikan Allah Ta’ala. Rida terbagi menjadi 2, yaitu rida Allah terhadap hamba-Nya, dan rida hamba terhadap Allah Swt. Rida memiliki 2 derajat, rida kepada Allah Swt sebagai Rabb, dan membenci beribadah kepada selain-Nya dan rida terhadap qada dan qadar Allah Swt.
Sedangkan al-maqamat lainnya ialah makrifat, sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat dan menegaskan bahwa rida bukan maqam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa sebagian sufi membagi makrifat menjadi 2, yaitu al-ma’rifat haq dan ma’rifat haqiqah.
BUKU 2                     : AKHLAK TASAWUF Pengenalan, Pemahaman, dan Pengaplikasiannya (Disertai Biografi dan Tokoh-tokoh Sufi) (Buku Pembanding)
Identitas Buku           : Drs. H. Ahmad Bangun Nasution, M.A. , Dra. Hj. Rayani Hanum Siregar, M.H., (Jakarta Pers, 2015)
Sub 1 : Rela (Ridha)
Sub 2 : Mahabah
Sub 3 : Maqam
Kesimpulan

-          Rela (Ridha)
Menurut Ahmad Bangun Nasution dan Rayani Hanum Siregar (50:2015), Rela (ridha) berarti menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugerahkan Allah Swt. Orang yang rela mampu menerima dan melihat hikmah dan kebaikan dibalik cobaan yang diberikan Allah Swt. dan tidak berburuk sangka terhadap ketentuannya.
Menurut Abdul Halim Mahmud, ridha mendorong manusia berusaha sekuat tenaga mencapai apa yang dicintai Allah Swt dan Rasul-Nya. Sebelum mencapainya ia harus menerima dan merelakan akibatnya dengan cara apa pun yang disukai Allah Swt.

-          Mahabah
Menurut Ahmad Bangun Nasution dan Rayani Hanum Siregar (57:2015), Mahabah secara literal mengandung beberapa pengertian sesuai dengan asal pengambilan katanya. Mahabah berasal dari kata hibbah, yang berati benih yang jatuh ke bumi, karena cinta adalah sumber kehidupan, sebagaimana benih menjadi sumber tanaman.
Dalam perspektif tasawuf, mahabah bisa ditelusuri maknanya menurut pandangan para sufi. Menurut Al-Junaid, cinta adalah kecendrungan hati. Yakni hati cenderung kepada Tuhan dan apa-apa yang berhubungan dengan-Nya tanpa usaha. Cinta, menurut pemuka sufi lain, adalah mengabdikan diri kepada yang dicintainya. Ali al-Kattani juga memandang cinta sebagai menyukai kepada apa yang disenanginya dan apa-apa yang datang dari yang dikasihinya.

-          Maqam Lainya (Makrifat)
Menurut Ahmad Bangun Nasution dan Rayani Hanum Siregar (79:2015), Makrifat adalah ujung perjalanan dari ilmu pengetahuan tentang syariat dengan kesediannya menempuh jalan (thariqat) dalam mencapai hakikat, itulah yang disebut dengan makrifat. Jadi, makrifat adalah pengetahuan, perasaan, pengalaman, dan ibadat dalam dunia tasawuf yang dimaksud dengan makrifat adalah pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati dan jalan pencapaian sistematik.


-          Kesimpulan
Kesimpulan dari seluruh penjelasan di atas ialah Rida adalah menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugerahkan Allah Swt. Ridha mendorong manusia berusaha sekuat tenaga mencapai apa yang dicintai llah Swt dan Rasul-Nya. Sebelum mencapainya ia harus menerima dan merelakan akibatnya dengan cara apa pun yang disukai Allah Swt.
Beralih ke cinta atau mahabah, cinta itu seperti benih yang jatuh ke bumi, karena cinta adalah sumber kehidupan, sebagaimana benih menjadi sumber tanaman. Menurut Al-Junaid, cinta adalah kecendrungan hati. Sedangkan makrifat adalah pengetahuan, perasaan, pengalaman, dan ibadat dalam dunia tasawuf yang dimaksud dengan makrifat adalah pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati dan jalan pencapaian sistematik.


PERBANDINGAN           :
Dari kedua buku yang telah di jelaskan diatas yaitu buku pertama karangan Ja’far dijelaskan bahwa cinta itu adalah runtuhnya semua cinta dalam hati kecuali kepada kekasih, cinta itu juga maqam dalam  ilmu tasawuf sebelum maqam ridha, di buku pak ja’far di jabarkan makna cinta kepada Allah secara lengkap begitu juga dengan ridha, ridha itu ialah menerima segalanya dengan senang hati tanpa ragu-ragu. Rida juga memiliki derajat dan memiliki macam-macamnya , di dalam buku pak ja’far telah diuraikan. Begitu juga dengan makrifat, sebagian sufi menilai setelah mencapai maqam rida, salik bisa mencapai maqam makrifat. Makrifat ialah pengosongan diri untuk selalu mengingat Allah Swt, tidak menyaksikan-Nya dan tidak kembali kepada selain-Nya.
Sedangkan pada buku pembanding (yang kedua) karangan Ahmad Bangun Nasution dan Rayani Hanum Siregar menjelaskan bahwa Cinta itu menurut pemuka sufi adalah mengabdikan diri kepada yang dicintainya. Tidak ada penjelasan lain mengenai mahabah (cinta) dibuku kedua ini karna jabaran mengenai cinta sangatlah sedikit, berbanding terbalik dengan buku pak Ja’far. Sedangkan ridha itu menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugerahkan Allah Swt. dan Makrifat ialah maqam lainnya yang ada di buku ini, makrifat ialah, pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati dan jalan pencapaian sistematik. Bisa kita lihat perbedaan dalam kedua buku ini ialah buku utama lebih lengkap daripada buku pembanding, mulai dari segi pengertian, sampai penjelasan para sufi terkait cinta, ridha, dan maqam lainnya (makrifat).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar